Motivasi Kehidupan

http://ayuningtyasutami.blogspot.com/

LIat yang ini yah :)

bahasa angksa

22.39 |


Hadits Nabi tentang Ulama adalah pewaris nabi sudah cukup mashur di kalangan kaum muslim. Salah satu makna dari hadits tersebut adalah tugas para nabi yang dilanjutkan oleh para ulama. Tentu yang dimaksud adalah pewaris tabligh atau penyampai risalah dakwah.
Sebagai pewaris mulia, para ulama yang saat ini juga identik dengan ustadz atau da'i yang lebih banyak berperan dalam menyampaikan risalah dakwah Islam cukup banyak ditemui di negeri ini yang mayoritas beragama Islam. Bahkan pernah juga "dipentaskan" oleh salah satu TV swasta untuk mencari da'I idola dalam rangka mencari ustadz atau da'I yang mumpuni dalam mendakwahkan risalah Islam meski tidak terlepas dari "rasa" keidolaan seseorang dalam memilih da'I tersebut.
Dan adalah satu hal yang umum jika ustadz atau da'I menyampaikan ceramah (baca: tabligh) di masjid-masjid setelah bertabligh, ustadz tersebut atau da'I tersebut "dibekali" sebuah amplop sebagai tanda "terima kasih" atas tablighnya dan sering dikatakan sebagai amplop biaya perjalanan ustadz dalam menyampaikan ceramah.
Pertanyaan yang ingin saya sampaikan di sini adalah: Jika memang seorang ustadz adalah pewaris nabi dalam hal bertabligh pantaskah ia menerima amplop yang notabene nama lain dari hal yang berbau duniawi? Bagaimana relavansi hadits di atas dengan ayat Al Quran yang begitu banyak tentang penolakan para nabi (tidak hanya Nabi Muhammad saja tentunya) akan "upah, atau jasa atau imbalan" dari menyampaikan risalah dakwah? Baca di surat: Ash Shu'aara ayat 109, 127, 145, 164,180, atau di surat Hud ayat 51 atau di surat Saad ayat 86 atau di surat Al Furqaan ayat 57 dan masih banyak lagi.
Berikut penulis kutipkan salah satunya dari surat Al Furqaan ayat 57:
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

Katakanlah : "Aku (Muhammad) tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.
Pembaca yang budiman, pantaskah seorang ustadz atau da'I menerima upah atas hasil dakwahnya di masjid-masjid atau di sebuah forum lainnya? Pantaskah amplop tersebut untuk mereka jika kita merujuk ke hadits nabi di atas?
Penulis tentu menyadari jika pertanyaan tersebut diajukan ke beberapa ustadz yang selama ini "biasa" menerima amplop jawaban yang akan disampaikan olehnhya pastilah berupa "excuse" bahwa hal itu sah-sah saja karena merupakan pengganti uang ongkos perjalanan.
Tetapi bukankah Nabi dan para sahabat tidak pernah meminta imbalan apapun setelah berdakwah?
Ada seseorang ustadz (maaf saya tidak mungkin menyebutkan namanya) yang dalam ceramahnya atau khutbahnya sering bertemakan tentang jihad tetapi setelah berdakwah dan turun dari mimbar ia menerima amplop sebagai "upah" dari dakwahnya. Pertanyaannya adalah bagaimana letak relevansi ceramahnya dengan ayat berikut ini:
وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu (As Saff 11)
Bukankah berdakwah bagian dari jihad fi sabilillah. Jika berdakwah bagian dari jihad yang mengorbankan HARTA (baca: UANG) mengapa ketika menyampaikan ceramah justru menerima HARTA (baca: UANG)? Dimana letak JIHAD yang dimaksud?
Pembaca yang budiman, ustadz atau da'I bukanlah sebuah profesi yang mana setelah ia mentutaskan pekerjaan menerima imbalan atau upah. Tetapi selama ini yang kita lihat tidaklah demikian.
Penulis memiliki juga seorang teman yang mencantumkan profesinya di KTP sebagai USTADZ. Jika profesinya adalah ustadz maka sah-sah saja baginya menerima amplop hasil dari jerih payah profesinya tersebut tanpa peduli dengan ayat-ayat yang menjelaskan penolakan para Nabi akan upah hasil dari dakwah atau tentang berjihad.
Yang lebih "dahsyat" lagi adalah ada ustadz atau da'I yang mencantumkan "biaya dakwahnya" sekian juta untuk diundang menyampaikan ceramahnya entah karena ia memiliki "kepopuleran" yang pantas dengan biaya tersebut atau karena ia memiliki manajemen yang mengurusi jadwal dakwahnya hingga perlu mencantumkan biaya.
Maka adalah tidak mengherankan jika selama ini ceramah-ceramah agama belum menghasilkan perubahan di umat secara nyata karena boleh jadi selama ini para ustadz banyak yang menerima amplop setelah berdakwah.
Ada seorang ustadz ceramah di masjid di daerah Jati Kramat Bekasi, dalam ceramahnya ia mengatakan tanpa malu-malu ia berkata: "Para jamaah sekalian di akhir ceramah saya ini saya juga dikenal dengan ustadz SIMATUPANG, bukan karena saya orang Batak tetapi SIMATUPANG berarti Siang Malam Siap Tunggu Panggilan." Dan setelah turun dari mimbar ceramah Ramadhan ia menerima amplop hasil dari ceramahnya. Jadi SIMATUPANG yang ia maksud juga berarti Siang Malam Siap Menerima Amplop.
Dan sering juga kita mendengar ada ustadz yang berkata: "Saya kalau ceramah tidak mau menerima amplopnya tetapi isinya".
Demikianlah adanya fenomena ustadz yang ada selama ini. Menyampaikan dakwah adalah bagian dari jihad tetapi jika ini disisipi oleh nilai-nilai duniawi yang selama ini berupa amplop maka kita dapat menyaksikan Indonesia kita selama ini meski kita umat Islam adalah mayoritas. Bagaimana pendapat Anda?....
************************RENUNGAN PAGI*********************
Salam Santun Ukhuwah....
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Read More

WANITA SHOLEHA

22.36 |


Untuk semuanya....
Nafsu mengatakan wanita cantik atas dasar rupanya..
dan akal mengatakan ...wanita cantik atas dasar ilmu dan kepandaiannya..
Tapi hati mengatakan..
Kalau wanita itu cantik atas dasar akhlak dan kepribadiannya..

Akhlak adalah bunga dan hiasan diri wanita..
Tanpa keberadaannya.. hilanglah perhatian manusia kepadanya..
Wanita sholihah adalah suri tauladan, lemah lembut, yang mampu mengurai sejuta masalah....
Di bawah belaian jemari halusnya, lahirlah cahaya
Yang menyinari dunia dengan pancaran keimanan..

Wahai wanita sholihah...
Koreksilah dirimu.. agar kamu senantiasa dapat mengarungi dunia
yang serba palsu..

Dekatkanlah dirimu kepada Ilahi Rabbi..
Senantiasa memohon ampunan kepada-Nya
dan selalu memulyakan ayah dan ibu serta keluarga..
Serta manis dalam menjalani hidup
Mengikuti sunah Nabi tercinta Muhammad saw...

- Moga qt smua termasuk dalam wanita sholihah yang di janjikan syurga oleh-Nya..
aamiin Ya Robbal alamiin.....
Read More

KISAH SEDEKAH YANG MENYENTUH HATI

22.33 |


Kisah di bawah ini adalah kisah yang didapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua." Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-anakku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya kearah kami.

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya ."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT." Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA! Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang-orang terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!
Read More

Motivasi Diri

22.25 |


Read More

Kisah seorang Tunarungu ''Hellen Keller''

22.15 |

Kisah perjuangan seorang buta tuli yang mendedikasikan dirinya bagi sesama melalui yayasan, Hellen Keller Fondation.
Read More

KISAH NYATA : DARI SAHABAT SOMALIA "SURGA TELAH MENANTIMU SAYANG"

21.46 |

Aku berjalan beriringan bersama ke lima anakku, sedangkan suamiku sudah berjalan mendahului kami beberapa hari yang lalu dan belum kembali sampai detik ini.

Dengan terpaksa..aahh..bukan dengan terpaksa, tapi kami memang harus segera menyusul. Ya..menyusul ke sebuah penampungan yang jaraknya kurang lebih satu minggu dari sini, tapi disanalah makanan tersedia.

Tak ada pilihan buat kami selain berjalan menuju ke sana ditengah kekeringan yang super dahsyat ini. Namun aku tahu, Allah Azza Wa Jalla sedang menguji kami, dan kami sangat yakin bila kami dapat melalui ujian ini maka Allah akan memberikan kami kemuliaan.

“Ummi, aku capek.” Maria, anakku yang nomer dua merengek minta istirahat.
Dari tadi dia memang berjalan dengan anakku yang pertama,Ahmad dan Rahma, anakku yang ketiga. Ketiganya sudah lumayan besar sehingga aku bisa mengajak mereka berjalan. Sedangkan dua anakku yang lain, yang aku gendong di punggungku baru berusia 2 tahun lebih, Shantia, dan yang aku gendong didepan baru 8 bulan, Amar.

Kami memilih beristirahat di sebuah pohon kering, dimusim sekering ini sulit menemukan sebuah pohon nan rindang.

“Nak minum dulu,”aku memberikan beberapa teguk air pada Shantia, lalu meneteskannya pada Amar. Aku melihat perbekalan air kami yang makin lama makin menipis, meskipun aku pesimis akan cukup tapi aku tetap yakin pada pertolongan-Nya.

Secara bergantian aku memberikannya pada Rahma, sedangkan aku melihat Maria dan Ahmad merebahkan dirinya di sebelahku.

“Nak minum dulu?” aku membangunkan Ahmad dan Maria.

“Nak?” semakin keras aku mengguncang mereka, aku kira mereka terlalu kelelahan. Mereka masih bernafas, namun semakin pelan.Aku kian panik, sekeras apapun aku mengguncang mereka namun mereka tak bergeming sedikitpun. Rahma, Shantia dan Amar menatapku, mencari tahu apa yang terjadi.
Aku harus bagaimana? aku tak mungkin membawa mereka, tapi akupun tak mau meninggalkan mereka. Aku juga tak mungkin tetap di sini, membiarkan anak-anakku yang lain mati kelaparan.

Aku meneteskan air mata, yaa..aku harus memilih. Aku kembali melanjutkan perjalanan bersama ke tiga anakku yang lain, tapi hati ini tak ingin berpisah dengan Ahmad dan Maria. Aku kembali berlari ke arah pohon tadi dimana Ahmad dan Maria terdiam, kembali ku guncang mereka sekeras mungkin. Tapi tak ada gerakan sama sekali. Aku hanya mampu pasrah terhadap-Nya, aku titipkan mereka pada-Nya.

Aku kembali berjalan, sekali-kali aku menengok kebelakang, berharap Ahmad dan Maria tiba-tiba berlari ke arahku, namun itu tak terjadi. Aku merindukan mereka, tapi mungkin surga lebih merindukan mereka.

Aku berbisik pada diriku sendiri,”Maafkan ketidakberdayaan ummi, Nak. Surga telah menantikan kehadiran kalian, sayang!”

Air mata ini semakin mengering setelah beberapa hari mata ini tak berhenti meneteskan mutiaranya.

***
Apa yang engkau pikirkan tentang sang ibu tadi? ibu yang super tega sama anaknya? atau kasihan?

Kisah di atas saya angkat dari kisah nyata seorang muslimah Somalia yang kini sedang mengalami kemarau panjang, bahkan untuk seteguk minuman dan sesuap nasi mereka rela berjalan berhari-hari.

Saya sebagai seorang anak dan juga sebagai seorang ibu tentu saja dapat merasakan sakitnya gejolak hati sang ibu yang harus memilih anak yang mana yang harus hidup.

Kalaupun saya harus ada diposisi itu, tentu saya akan memilih hal yang sama dengan kisah di atas. Bukan karena saya tega membiarkan anak saya sekarat, tapi saya lebih memilih anak-anak saya yang lain untuk tetap hidup dan berjuang daripada nantinya semua harus menanggung kematian bersama tanpa ada perjuangan lagi.

Subhanallah…ummi, ibu, bunda, mamah, apapun sebutanmu untuknya tentu dalam hatimu telah tergores namanya. Tidak hanya karena apa yang dia berikan untukmu, tapi karena kasih sayangnya tak akan mampu terbalaskan dengan apapun.

Jihadnya untukmu seharusnya membuatmu berpikir, apa yang sudah kamu berikan pada ibumu bukan apa yang sudah ibumu berikan padamu?

Lihatlah dan rasakan ketika ibumu berjuang demi dirimu, sebelum melahirkan sampai melahirkan dia berjuang demi dirimu, ketika kamu belum bisa merangkak sampai bisa berlari dia berjuang demi dirimu, ketika kamu sehat sampai ketika kamu sakit dia berjuang demi dirimu. Semua itu karena cintanya padamu dan jihadnya untuk Rabb nya.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua ibu bapakmu.” (Luqman:14).

Wahai ibuku…sinarilah kehidupan kami dengan nur Al Quran dan sunnah Rasulullah Alaihi Wasalam. Karena kau lah tempat tarbiyah kami dan tauladan kami.

Read More

NASEHAT YANG JITU

08.27 |

Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi'ah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya.
Ia berkata, "Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!"
Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, "Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang
kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa."
Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, "Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?"
"Syarat pertama, jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah," ucap Ibrahim.
Jahdar mengernyitkan dahinya lalu berkata, "Lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah?"
"Benar," jawab Ibrahim dengan tegas. "Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara Kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya?"
"Baiklah," jawab Jahdar tampak menyerah. "Kemudian apa syarat yang kedua?"
"Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya," kata Ibrahim lebih tegas lagi.
Syarat kedua membuat Jahdar lebih kaget lagi. "Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?"
"Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?" tanya Ibrahim.
"Kau benar Aba Ishak," ucap Jahdar kemudian. "Lalu apa syarat ketiga?" tanya Jahdar dengan penasaran.
"Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempar bersembunyi dari-Nya."
Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. "Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?"
"Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu?" tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi'ah tidak berkutik dan membenarkannya.
"Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat?"
"Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh."
Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. Ia kemudian berkata, "Tidak mungkin... tidak mungkin semua itu aku lakukan."
"Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?"
Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu.
"Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!"
Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, "Cukup…cukup ya Aba Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah."
Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu'.
Ibrahim bin Adham yang sebenarnya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.
Selanjutny, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi'ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, "Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku."
Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, "Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi?"
Ibrahim bin Adham menjawab, "Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana."
Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, "Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya."
Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi'ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya....
Read More